SOAL PUISI PASKAH “BOCAH NU”

Spread the love

Oleh: H. Ahmad Zuhri Adnan, M.Pd.*

DALAM beberapa hari terakhir ini heboh dibicarakan video yang menampilkan dua santri yang membacakan puisi Paskah yang beredar luas di sejumlah WAG dan media sosial lainnya. Lebih heboh lagi ketika muncul berita tayangan video itu diputar dalam program Belajar dari Rumah (BDR) yang ditayangkan TVRI.

Jika ditelisik, setidaknya ada tiga hal yang yang menyebabkan video itu mengegerkan masyarakat, termasuk warga NU. Pertama yaitu konten puisinya yang dianggap membahayakan akidah, kedua kopyah berlogo NU yang dikenakan bocah laki-laki pembaca puisi, dan yang ketiga yaitu isu pembacaan puisi itu tayang di TVRI.

Akidah merupakan persoalan yang prinsip dan harus dipertahankan hingga ajal. Di tengah masyarakat Indonesia yang berbhineka ini kita dihadapkan pada masyarakat yang multiideologi. Setiap agama tentu punya teologi dan cara beribadahnya masing-masing. Untuk mengatur itu Islam memandunya dengan ayat ‘lakum diinukum wa liyadiin’. Itu jadi dasar untuk Islam melakukan toleransi, dengan menyadari bahwa ada agama lain di luar Islam. Ini diperkuat pula dengan konsep Islam agama ramah, lebih lengkapnya rahmatan lil alamain. Nilai-nilai toleransi harus dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada praktiknya, toleransi punya batasan-batasan tertentu. Segala macam urusan, silakan bertoleransi, kerjasama dengan orang yang berbeda agama.

Terkadang konsep rahmatan lil alamin dipandang sebagai konsep yang terlampau luas yang belum tentu dapat diterima oleh kalangan masyarakat umum. Minimalnya, akan terjadi polemik yang solusinya bias oleh perjalanan waktu. Gus Dur acapkali menggulirkan pemikiran yang kontroversial di samping juga sering mengadakan pembelaan terhadap kasus-kasus kontroversial, termasuk ketika menyikapi tulisan Ulil Absar Abdalla tahun 2002 bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam”. Gus Dur memaklumi hal itu, asalkan tidak melompati empat mazhab dalam beristinbat.

Menanggapi konten puisi Paskah yang kontroversial –kalau mau dianggap menyesatkan-, Si pembuat puisi, Ulil Absar Abdalla dalam Alif.id memberikan tanggapan, kendatipun penjelasannya mungkin saja tak memuaskan semua pihak, terutama pihak-pihak yang memang memiliki “posisi intelektual-teologis” yang berbeda. Memang benar, bahkan Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, seorang mantan pengurus PWNU Yogyakarta, dengan sangat keras menentang puisi itu. Menurutnya, ini adalah gejala “liberalisasi” yang amat berbahaya dalam NU.

Menurut Ulil, puisi itu tidak merusak akidah. Bahwa batas paling penting dalam dialog antaragama adalah akidah; selama seorang Muslim masih berpegang pada akidah Islam, dia tetaplah seorang Muslim. “Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku/Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati/Ia membuatku cinta pada yang dinista!/Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih”. Utamanya empat baris puisi itu yang dianggap merusak akidah

Masih menurut Uil, dalam masalah akidah, pembeda paling penting dalam hubungan Islam-Kristen adalah pandangan tentang sosok Yesus atau Nabi Isa. Seorang Muslim mempercayai Yesus sebagai nabi sebagaimana nabi-nabi yang lain, sementara umat Kristen meyakini ketuhanan Yesus. Ulil menyatakan, dalam puisi Paskah yang ditulisnya, tak ada satu pun kalimat yang menegaskan bahwa dia menyetujui pandangan Kristen mengenai ketuhanan Yesus. Ulil hanya mengapresiasi momen penyaliban Yesus yang baginya, sebagai seorang Muslim, bisa dimaknai secara simbolis sebagai simbol “pengorbanan” yang besar.

Memang, salah satu santri yang tampil dalam video dengan peci berlogo NU adalah anak seorang kawannya (Ulil), seorang kiai muda di Jakarta. Namun, Ulil sendiri mengaku tak tahu siapa yang memproduksi video itu. Puisi yang ditulis Ulil itu sejatinya adalah tulisan yang dibuatnya tahun 2013, tujuh tahun yang lalu dan tidak diniatkan sebagai sebuah puisi. Sebab, semula apa yang belakangan dikenal sebagai “puisi” itu berasal dari twitnya yang ditulis persis pada saat momen Jumat Agung. Tanpa diduga twit-twit itu akan menjadi “Puisi Paskah” yang digemari banyak kalangan, terutama teman-teman Kristiani.

PBNU memastikan tidak pernah memproduksi video puisi tersebut. Sebagaimana dilansir NU Online (15/4). PBNU juga belum mengetahui pihak yang memproduksi video viral yang menampilkan anak-anak mengenakan peci hitam berlogo NU. Rupanya “tradisi anyar” gorong-menggoreng warga Indonesia saat ini tak kenal iklim, tak kenal sedang duka global Covid-19. Video itu pun digoreng jadi masakan hoaks. Tersebar kabar di grup WA, “Iya bahas pembelajaran dari TVRI hanya 30 menit dari pukul 08.30-09.00 lngsng malah yg nongol mimbar katolik yah. Pdhl sesi brkt ny kls 4 kan. Astaghfirullahal adzim kita para orngtua perlu mndmpingi saat tyngn trsebut.”

Tersiar kabar bahwa tayangan itu menjadi selingan pada program Belajar dari Rumah (BDR). Namun, dalam keterangan tertulisnya (15/4) Usrin Usman membantah pemberitaan di media sosial terkait tayangan video dua anak berbusana muslim yang disebut disiarkan dalam program mimbar agama Katolik di TVRI. Tim Pemeriksa TVRI sudah melakukan pengecekan ulang. Mereka tidak menemukan video yang dimaksud dalam tayangan mimbar agama Katolik di TVRI tanggal 13 April 2020. Hal ini juga sudah dikonfirmasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tim pemantau KPI menegaskan bahwa video tersebut tidak tayang di TVRI. Jadi, dapat dipastikan bahwa kabar yang beredar di sosial media atau di grup WhatsApp hanya hoaks!

Usrin menjelaskan bahwa pihaknya sangat menyayangkan adanya pemberitaan sepihak terkait program BDR. Dalam keterangan tertulis yang diterima kumparanMOM, Usrin menjelaskan bahwa program mimbar agama Katolik atau mimbar agama lain merupakan program yang terpisah. “Berdiri sendiri dan sudah terjadwal di dalam pola acara TVRI,” jelasnya. Sama seperti halnya program Belajar dari Rumah, program mimbar agama adalah bagian dari tugas kepublikan TVRI dalam mengakomodir upaya dakwah semua agama yang diakui di Indonesia. Semua agama yang diakui negara mendapat porsi siaran di TVRI secara bergantian setiap harinya.

Surat Al-Kafirun, dalam sudut pandang sosial dikenal sebagai surat yang mempresentasikan bahwa muslim setidaknya harus memiliki sikap toleransi terhadap apa yang menjadi keyakinan pemeluk agama lain. Namun, tidak diperbolehkan bertoleransi dalam bentuk keyakinan yang dianut mereka. Dalam hal keyakinan, memang umat Muslim harus berlaku tegas terlebih terhadap dirinya sendiri, bahwa Tuhan yang patut disembah hanya Allah swt. Maka, dalam ayat ke-2 Al-Kafirun ini ditegaskan: ‘Laa ‘a’budhu maa ta’buduun’ (Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah).

Kalimat ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad kala itu yang diajak berkompromi oleh Quraish Makkah tidak akan pernah (baik sekarang, maupun akan datang) menyembah sesembahan yang mereka sembah. Dipertegas juga oleh Ibnu Katsir bahwa kalimat dalam ayat ke-2 ini mengandung nafyul fi’li. Maksudnya perbuatan itu (penyembahan pada keyakinan agama lain) tidak pernah dikerjaan oleh Nabi. Tidak ada tolerasi dalam hal beribadah dengan umat lain. Tidak ada negoisasi dalam menjalankan praktik keagamaan antaragama.

Namun demikian, dalam upaya membangun hubungan antaragama yang harmonis (juga sektor lain seperti sosial, budaya, politik, dan iptek) diskusi, halaqoh, seminar dan semangat berliterasi harus terus dibangun. Pemikiran yang progresif dan inovatif dibuka lebar dengan tetap memperhitungkan dan meminimalisir kesalahpahaman yang mengakibatkan keresahan.[]

*Penulis adalah ketua LDNU Kabupaten Cirebon, Alumni PP Lirboyo Kediri & Pengasuh PP Ketitang Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Jangan Ada Korupsi di Antara Corona
Next post Peduli Covid19, ISNU Gegesik Kembali Gelar Aksi Sosial Bagi Masker Gratis bareng IPNU dan IPPNU Kecamatan Gegesik
ISNU KABUPATEN CIREBON